MNCCTVNEWS.COM–kuta cane–21 eptember 2025.Kami berdiri hari ini bukan atas nama organisasi, bukan atas nama kelompok, melainkan atas nama kemanusiaan. Di tanah Aceh Tenggara, seorang anak bangsa kehilangan nyawanya, bukan di medan perang, bukan karena bencana alam, tetapi karena sebuah festival yang digelar pejabat negara. Festival yang seharusnya menjadi ruang gembira, berubah menjadi panggung duka.
Kami mendampingi orang tua korban, yang kini hanya bisa menatap kosong pusara anaknya. Air mata mereka adalah saksi bisu, bahwa hak hidup hak paling dasar, hak konstitusional tertinggi telah dirampas. Namun yang lebih menyakitkan, setelah nyawa melayang, tak ada pertanggungjawaban yang nyata. Negara seolah diam, pejabat bersembunyi di balik panggung, dan aparat sibuk menjaga wajah kekuasaan ketimbang mengusut kebenaran.
Lebih parah lagi, ketika rakyat dan aktivis berusaha bersuara, datanglah intervensi. Sekelompok orang mulai menekan, mengintimidasi, bahkan berusaha membungkam kritik. Seolah-olah nyawa seorang warga hanyalah catatan kaki yang harus dilupakan demi menjaga citra penguasa. Kami tegaskan, ini bukan sekadar soal politik, ini soal kemanusiaan!
Kami ingin bertanya :
Apakah konstitusi hanya berlaku untuk pejabat, sementara rakyat dibiarkan mati sia-sia?
Apakah kebebasan berpendapat yang dijamin UUD 1945 kini harus tunduk pada kepentingan orang yang punya kuasa?
Apakah aparat kepolisian hadir untuk menegakkan hukum, atau justru menjadi pagar besi yang melindungi kursi kekuasaan?
Kami menolak diam. Diam berarti mengkhianati darah korban. Diam berarti menggadaikan konstitusi. Oleh karena itu, kami mendesak:
1. Usut tuntas tragedi penikaman di festival pejabat negara—seret pelaku keadilan, siapa pun yang terlibat.
2. Hentikan intervensi oknum oknum politik yang mencoba membungkam suara rakyat dan aktivis.
3. Tegakkan hukum secara adil bukan untuk melayani kekuasaan, tetapi untuk menegakkan martabat manusia.
Kami berdiri bersama keluarga korban, dengan suara yang mungkin serak, dengan tubuh yang mungkin lelah, tetapi dengan hati yang tak akan pernah tunduk. Karena kami tahu, konstitusi bukanlah milik pejabat; ia adalah milik rakyat.
Dan selama rakyat masih punya suara, selama air mata orang tua korban masih menetes, kami akan terus berkata lantang,
Darah rakyat bukan tumbal festival kekuasaan!





