MNCCTv NEWS

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Bupati Bangka, Feri Insani, menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas terbitnya Surat Edaran Bupati tentang Gerakan Ayah Mengambil Rapor yang belakangan menimbulkan pro dan kontra, khususnya di kalangan anak-anak yang tidak memiliki figur ayah.

Feri menegaskan, kebijakan tersebut sama sekali tidak dimaksudkan untuk menyinggung perasaan anak-anak yatim maupun keluarga yang diasuh tanpa kehadiran ayah. Ia mengakui, dalam proses penyusunan kebijakan tersebut, pemerintah daerah kurang mempertimbangkan kondisi sosial anak-anak yang dibesarkan oleh ibu, paman, atau wali lainnya.

“Saya menyampaikan permohonan maaf apabila kebijakan ini menimbulkan rasa tidak nyaman. Tidak ada niat sedikit pun untuk menyinggung anak-anak yang tidak memiliki ayah,” ujar Feri.

Ia menjelaskan, bagi anak-anak yatim atau yang tidak memiliki figur ayah, peran pengasuhan dan pendampingan pendidikan dapat dijalankan oleh ibu atau wali lainnya. Menurutnya, hal tersebut tetap sah dan tidak mengurangi nilai pendidikan maupun kasih sayang yang diterima anak.

Feri menuturkan, tujuan awal Gerakan Ayah Mengambil Rapor adalah untuk mendorong keterlibatan ayah dalam pendidikan anak, agar tanggung jawab pengasuhan tidak sepenuhnya dibebankan kepada ibu. Gerakan ini diharapkan dapat memperkecil jarak emosional antara orang tua dan anak.

“Pesan utamanya sederhana, ayah jangan sepenuhnya menyerahkan urusan pendidikan kepada ibu. Ayah juga harus hadir,” katanya.

Lebih lanjut, Feri Insani menegaskan bahwa anak-anak yatim dan kelompok rentan merupakan tanggung jawab negara. Pemerintah daerah, melalui perangkat terkait khususnya Dinas Sosial, memiliki kewajiban untuk hadir memberikan perlindungan dan bantuan.

Ia juga menjelaskan bahwa kemiskinan memiliki berbagai kategori, mulai dari kemiskinan struktural, spasial, hingga kemiskinan absolut. Untuk kemiskinan struktural dan spasial, pemerintah masih dapat melakukan pemberdayaan. Namun bagi kelompok yang tidak memiliki akses ekonomi sama sekali, seperti anak-anak yatim, negara wajib hadir sepenuhnya.

“Anak-anak yatim tidak memiliki akses ekonomi. Di situlah negara harus hadir dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Feri menekankan, anak-anak yang tidak memiliki ayah justru menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah. Mereka tetap dapat tumbuh dan berkembang dengan pendampingan ibu atau wali, serta dukungan negara.

Ia juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai seorang ayah. Menurutnya, keberhasilan anak-anaknya lebih banyak dipengaruhi oleh peran ibu dalam mendidik dan membentuk karakter.

“Saya punya empat anak. Kalau mereka berhasil, itu bukan karena saya, tetapi karena peran ibu yang sangat dominan dalam mendidik dan mendampingi,” ungkapnya.

Meski demikian, ia menilai kehadiran figur ayah tetap penting sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam pengasuhan dan pendidikan anak.

Di akhir pernyataannya, Feri kembali menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat apabila kebijakan tersebut menyinggung perasaan sebagian pihak. Ia menegaskan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar dalam demokrasi.

“Tidak semua orang harus setuju. Yang terpenting, masyarakat merasa aman, nyaman, dan anak-anak mendapatkan pendidikan yang baik,” pungkasnya.

Red. Anas n70

 

\ Get the latest news /