
MNCCTV News
Scroll Untuk Lanjut MembacaPANGKALPINANG — Provinsi Kepulauan Bangka Belitung kembali mendapat perhatian dalam agenda pembangunan nasional berbasis kelautan.
Daerah kepulauan ini resmi menjadi salah satu wilayah sasaran program internasional GEF-8 Enhancing Policy Coherence for a Sustainable Blue Economy in Indonesia, sebuah inisiatif strategis yang digagas Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia bersama lembaga lingkungan dunia.
Kick off program tersebut digelar pada 11–12 Mei 2026 di Aston Pangkalpinang Hotel & Conference Center, dan dihadiri berbagai pemangku kepentingan pusat maupun daerah. Dari Bangka Belitung, hadir Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia Ridwan, SPKP, bersama Ibnu Taufik Hidayat, SPI., MSi dan Mustafa.
Program GEF-8 menjadi terobosan penting karena membuka akses pendanaan hibah luar negeri tanpa membebani anggaran daerah. Skema ini dinilai sangat strategis di tengah kebutuhan pembangunan sektor kelautan dan perikanan yang terus meningkat.
Sebanyak lima provinsi terpilih menjadi penerima manfaat program ini, yakni Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah, serta satu wilayah prioritas lainnya. Total hibah yang digelontorkan mencapai 9 juta dolar Amerika Serikat untuk pelaksanaan selama lima tahun, dengan pendampingan dari United Nations Environment Programme dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia.
Bagi Bangka Belitung, program ini bukan sekadar bantuan dana, tetapi momentum memperkuat arah pembangunan blue economy atau ekonomi biru—konsep pembangunan yang menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan keberlanjutan ekosistem laut.
Ketua HNSI Babel Ridwan menegaskan, peluang ini harus disambut serius oleh seluruh pemangku kebijakan daerah. Menurutnya, komitmen penyediaan data, kesiapan regulasi, dan sinergi lintas sektor menjadi kunci agar manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat pesisir.
“Ini kesempatan besar bagi Bangka Belitung. Jika dikelola serius, manfaatnya bukan hanya bagi pemerintah daerah, tetapi juga nelayan, pelaku usaha perikanan, hingga generasi muda pesisir,” ujarnya.
Program ini juga diharapkan mampu mendorong peningkatan nilai tambah hasil laut, pembukaan lapangan kerja baru, penguatan UMKM maritim, hingga perlindungan kawasan pesisir yang selama ini rentan terhadap tekanan lingkungan.
Di tengah tantangan ekonomi global, masuknya Bangka Belitung dalam proyek hibah internasional menjadi sinyal bahwa potensi kelautan daerah ini masih sangat diperhitungkan. Kini, harapan masyarakat sederhana: laut tetap terjaga, ekonomi tumbuh, dan kesejahteraan nelayan benar-benar meningkat.
Redaksi: Anasn70




