MNCCTV NEWS

Scroll Untuk Lanjut Membaca

SUNGAILIAT – Transformasi pelayanan kesehatan di Kabupaten Bangka terus bergerak maju. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Depati Bahrin kembali menegaskan perannya sebagai rumah sakit rujukan utama dengan meluncurkan inovasi digital Early Warning System (EWS) Rujukan IGD sekaligus memperkuat jejaring layanan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif (PONEK), penanganan stunting, dan wasting, Senin (15/6/2026).

Dua agenda strategis yang dipusatkan di Aula IBS RSUD Depati Bahrin tersebut menjadi bagian dari langkah besar rumah sakit dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang lebih cepat, terintegrasi, responsif, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Kegiatan ini dihadiri jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, direktur rumah sakit jejaring, kepala puskesmas, organisasi profesi kesehatan seperti IDI, PPNI, IBI, dan PERSAGI, serta unsur pemerintah kecamatan dan kelurahan.

Transformasi Digital Pelayanan Gawat Darurat
Perubahan paling menonjol yang diperkenalkan RSUD Depati Bahrin adalah implementasi Aplikasi Early Warning System (EWS) Rujukan IGD.

Sistem ini memungkinkan tenaga kesehatan di puskesmas maupun fasilitas kesehatan tingkat pertama mengirimkan data kondisi pasien secara real time kepada tim medis rumah sakit sebelum pasien tiba di ruang gawat darurat.

Melalui aplikasi tersebut, dokter dan tenaga kesehatan di IGD dapat memantau tanda-tanda vital pasien, menilai tingkat risiko kegawatdaruratan, hingga menyiapkan kebutuhan medis yang diperlukan sebelum pasien datang.

Direktur RSUD Depati Bahrin, dr. Yogi Yamani, Sp.B., MARS, mengatakan inovasi ini merupakan jawaban atas tantangan pelayanan kegawatdaruratan yang selama ini membutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam pengambilan keputusan.

“Dengan sistem ini, tim IGD tidak lagi menunggu pasien datang baru melakukan asesmen awal. Persiapan dapat dilakukan sejak pasien masih dalam perjalanan. Semakin cepat tindakan diberikan, semakin besar peluang keselamatan pasien,” ujar dr. Yogi.

Menurutnya, digitalisasi pelayanan bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, tetapi menjadi kebutuhan nyata untuk meningkatkan mutu layanan dan mempercepat respons medis terhadap kasus-kasus kritis.

Peluncuran EWS sekaligus menandai transformasi RSUD Depati Bahrin menuju pelayanan kesehatan modern yang mengedepankan kolaborasi data, kecepatan informasi, dan efisiensi pelayanan.

Membangun Sistem Kesehatan yang Terhubung dari Hulu ke Hilir
Pada sesi berikutnya, RSUD Depati Bahrin menggelar Sosialisasi Layanan dan Penguatan Jejaring Rujukan PONEK, Stunting, dan Wasting.
Forum ini menjadi wadah konsolidasi lintas sektor untuk memperkuat sistem rujukan ibu dan anak, sekaligus mempercepat penanganan masalah gizi yang masih menjadi tantangan pembangunan kesehatan daerah.

Dalam sambutannya, dr. Yogi menegaskan bahwa keberhasilan menurunkan angka kematian ibu, angka kematian bayi, maupun prevalensi stunting tidak dapat dibebankan kepada satu institusi semata.

“Rumah sakit tidak bisa bekerja sendiri. Penanganan kesehatan ibu, bayi, dan balita membutuhkan kolaborasi yang kuat antara rumah sakit, puskesmas, bidan desa, tenaga gizi, pemerintah daerah, hingga masyarakat. Semua harus bergerak dalam satu sistem yang terhubung,” katanya.

Melalui penguatan jejaring rujukan ini, RSUD Depati Bahrin mempertegas perannya sebagai pusat layanan rujukan yang siap mendukung fasilitas kesehatan primer dalam menangani kasus-kasus maternal, neonatal, maupun gangguan pertumbuhan anak.

Bagi ibu hamil berisiko tinggi dan bayi baru lahir yang membutuhkan penanganan khusus, sistem rujukan yang cepat dan terstandarisasi diyakini akan menekan risiko komplikasi serta meningkatkan angka keselamatan.

Sementara pada kasus stunting dan wasting, koordinasi yang lebih kuat diharapkan mampu mempercepat deteksi dini, memperpendek jalur rujukan, dan memastikan balita yang memerlukan intervensi klinis spesialistik dapat segera memperoleh layanan yang tepat.

RSUD Depati Bahrin Terus Berbenah
Dalam kesempatan tersebut, manajemen RSUD Depati Bahrin juga memaparkan berbagai pembenahan fasilitas serta pengembangan layanan unggulan yang telah dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.

Transformasi yang dilakukan tidak hanya menyentuh aspek infrastruktur dan teknologi informasi, tetapi juga peningkatan kompetensi sumber daya manusia, penguatan tata kelola pelayanan, serta perluasan jejaring kemitraan dengan berbagai fasilitas kesehatan di wilayah Kabupaten Bangka.
Langkah tersebut menunjukkan komitmen RSUD Depati Bahrin untuk terus meningkatkan kualitas layanan agar masyarakat memperoleh akses kesehatan yang lebih mudah, cepat, aman, dan berkualitas.

“Pertemuan ini bukan sekadar sosialisasi program. Ini adalah komitmen bersama untuk memperkuat pelayanan kesehatan masyarakat. Ketika sistem rujukan berjalan baik, koordinasi semakin cepat, dan komunikasi semakin efektif, maka masyarakatlah yang akan merasakan manfaat terbesar,” tegas dr. Yogi.

Kegiatan yang berlangsung produktif dan interaktif itu ditutup dengan sesi diskusi, penyamaan persepsi, serta penyusunan rencana tindak lanjut bersama seluruh pemangku kepentingan guna memastikan implementasi program dapat berjalan optimal di lapangan.

Kesimpulan
Peluncuran Aplikasi EWS dan penguatan jejaring rujukan PONEK–Stunting menjadi bukti nyata bahwa RSUD Depati Bahrin tengah menjalani transformasi pelayanan kesehatan yang semakin modern, terintegrasi, dan berorientasi pada keselamatan pasien.

Dengan memadukan inovasi digital, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta peningkatan kualitas layanan, RSUD Depati Bahrin tidak hanya mempercepat penanganan pasien gawat darurat, tetapi juga memperkuat upaya perlindungan kesehatan ibu dan anak serta percepatan penurunan stunting di Kabupaten Bangka.

Transformasi ini menjadi langkah penting menuju sistem kesehatan daerah yang lebih tangguh, adaptif, dan mampu memberikan pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakat.

Red, Anasn70.

\ Get the latest news /