Sungaipenuh, Jambi MNCCTVNews.com – Pemerintah Kota Sungaipenuh terus menggenjot program pengelolaan sampah berbasis desa melalui penguatan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R). Ini adalah langkah nyata dari Pemkot dalam menjawab tantangan pengelolaan sampah sekaligus menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat bagi warga desa. Program ini juga menjadi bagian dari prioritas besar Wali Kota Alfin dan Wakil Wali Kota Azhar Hamzah dalam mendorong kemandirian desa di berbagai sektor, termasuk dalam bidang pengelolaan sampah.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kota Sungaipenuh, Edri Penta, menyampaikan kepada media ini pada Rabu (14/5) di ruang kerjanya bahwa progres pembangunan dan pengoperasian TPS3R terus berjalan lancar. Hingga Mei 2025, 16 desa sudah berhasil kembali mengoperasikan TPS3R mereka setelah sebelumnya sempat terdampak banjir besar di akhir tahun 2024.
“Kami sangat bangga karena 16 desa telah kembali mengoperasikan TPS3R, dan lebih dari itu, kami juga sedang mengejar 24 TPS3R desa aktif yang akan beroperasi penuh pada bulan Juli. 8 desa lainnya sudah memulai pembelian mesin pengolahan sampah yang sangat dibutuhkan,” ujar Edri Penta.
Proyek ini direncanakan untuk mencakup lebih banyak desa lagi. 5 desa lainnya dijadwalkan untuk membangun gedung TPS3R pada bulan Juni, sementara 6 desa lagi telah menyiapkan lahan untuk membangun gedung dan membeli mesin pada APBD Perubahan bulan Juli 2025.
“Semua progres ini berjalan sesuai dengan target, dan kami optimistis pada Agustus hingga September 2025, kita akan mencapai target 35 TPS3R desa aktif,” tegas Edri.
Namun, program ini tidak hanya terfokus pada pembangunan fisik dan pengadaan mesin. Salah satu elemen penting yang dijalankan adalah pembentukan Satgas Monitoring dan Evaluasi (Monev) yang bertugas memastikan setiap kegiatan operasional TPS3R di desa berjalan dengan baik dan sesuai prosedur yang telah ditetapkan.
“Kami telah membentuk Satgas Monev yang akan memastikan bahwa setiap kegiatan pengelolaan sampah di 16 desa yang sudah beroperasi terpantau dengan baik. Kami meminta laporan setiap hari dari setiap desa untuk memastikan bahwa operasional TPS3R berjalan sesuai dengan harapan,” ujar Edri Penta, menegaskan pentingnya sistem pemantauan dan pelaporan yang sistematis dalam menjaga keberlanjutan program ini.
Selain pemantauan yang ketat, salah satu hal yang juga menjadi perhatian adalah masalah penganggaran operasional TPS3R di tingkat desa. Edri Penta menjelaskan bahwa anggaran operasional untuk setiap TPS3R desa telah dialokasikan melalui Dana Desa.
“Untuk operasional TPS3R skala desa, kami telah menganggarkan Rp 57.700.000 per tahun untuk satu desa. Anggaran ini digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti honor operator, pembelian bahan bakar minyak untuk mesin, perbaikan mesin jika ada kerusakan, dan berbagai kebutuhan lain yang berkaitan dengan pengelolaan TPS3R,” ujar Edri.
Dia menambahkan bahwa ada peningkatan pada honor operator yang semula hanya Rp 1 juta per bulan kini telah dinaikkan menjadi Rp 1,3 juta per bulan. Hal ini bertujuan untuk memberikan insentif yang lebih baik bagi mereka yang bertugas mengelola sampah di desa-desa tersebut.
“Selain itu, honor untuk petugas yang mengangkut sampah menggunakan roda tiga juga diambil dari dana desa masing-masing. Untuk petugas pengangkut sampah yang menggunakan roda tiga, honornya dibiayai melalui bantuan dari Provinsi,” jelas Edri Penta.
Program ini juga menempatkan desa sebagai aktor utama dalam keberhasilan pengelolaan sampah. Masyarakat desa tidak hanya dilibatkan dalam aspek teknis pengolahan, tetapi juga diharapkan memiliki kesadaran yang tinggi untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan. Dengan adanya insentif yang lebih baik dan pengawasan yang ketat, diharapkan dapat menciptakan sistem pengelolaan sampah yang lebih efisien, efektif, dan berkelanjutan,” tegasnya
“Kami berharap, melalui penguatan anggaran dan sistem monitoring yang baik, program ini akan terus berkembang dan menjadi contoh bagi daerah lain. Ini adalah investasi masa depan yang tidak hanya akan memberikan dampak langsung terhadap kebersihan lingkungan, tetapi juga bisa menjadi peluang ekonomi bagi masyarakat desa,” tambah Edri.
Dengan semangat gotong royong, sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, Sungaipenuh optimistis dapat mencapai tujuannya untuk menciptakan desa-desa yang tidak hanya mandiri, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tutup Kadis PMD Kota Sungaipenuh,
Penulis : Edi Pengasai



